FILM
PENDEK
Dua orang pemuda yang bernama Pon dan
Kliwon, merupakan pemuda yang biasa saja
dan seakan cuek akan semua yang berbau social. Termasuk masalah sampah,
bahkan masalah sampah yang mereka hasilkan sendiri, dibuangnya seenak hati.
Mereka selalu sibuk dengan hobi masing – masing. Pon adalah anak motor, hobinya
adalah utak – atik motor, biarpun sebenarnya motornya tidak ada masalah. Sedangkan
Kliwon, merupakan anak rumahan yang lebih aktif di dunia maya, kesehariannya
hanyalah bermain gadget kalau tidak bermain laptop.
Hidup
terkadang memang membosankan dengan kegiatan yang monoton itu – itu saja.
Hingga suatu ketika, terbesit di benak Pon saat dirinya mandi, untuk mencari suasana baru yang belum
pernah ia lakukan. Pada saat itu pula, handphone nya bordering menandakan ada
yang menelephone nya. Telephone itu ternyata dari sahabatnya Kliwon yang
mengajaknya untuk main kerumahnya.
Setelah
mandi selesai, Pon langsung meluncur ke rumah sahabatnya itu. Sesampainya di
rumah Kliwon, mereka saling ngobrol bahkan curhat satu sama lainnya. Ternyata
hal yang sama dirasakan oleh Kliwon, yaitu merasa bosan dengan hari – hari yang
monoton. Kebetulan, Kliwon yang ahli dalam searching dan googling, sebelumnya
sudah mendapatkan informasi bahwa ada suatu tempat yang cocok untuk
menghilangkan penat dan kebosanan. Tempat itu adalah Gunung Prau, gunung yang
ketinggiannya adalah 2565 mdpl.
Mereka
sepakat untuk merencanakan pendakian
gunung Prau, suatu rencana yang mereka sendiri belum pernah lakukan.
Dengan gaya yang congkak dan sok berpengalaman, tanpa basa – basi tanpa pertimbangan cuaca, perhitungan bekal,
dan ilmu mountenering secepatnya harus rencana itu harus terlaksana.
Pagi
– pagi berangkatlah mereka menuju basecamp pendakian gunung Prau yang berada di
desa Kenjuran. Jarak tempuh yang agak jauh dari kota ditempuhnya menggunakan
motor bebeknya. Jalan rusak, bergelombang khas pegunungan diterjangnya tanpa
henti. Sesampai di basecamp, bertemulah mereka dengan penjaga basecamp, dan
diberitahukan bahwa pendakian gunung Prau ditutup untuk sementara. Mereka kesal
sendiri, dan langsung berpamitan dengan penjaga basecamp. Namun apa yang mereka
lakukan setelah berpamitan,?
Ternyata
mereka nekat menerobos untuk mendaki gunung Prau secara illegal. Hutan
berantara mereka masuki dan tidak lewat jalur pendakian yang resmi. Pohon besar
dan rindang seakan tidak merestui perjalanan mereka. Semak belukar yang
menghadang, dilibasnya dengan sepatu yang notabene bukan sepatu untuk pendakian
dan kegiatan out door pada umumnya, sepatu yang mereka gunakan hanyalah sepatu
harian ke sekolah, kampus, mall dan lain sebagainya.
Setelah
berjalan seberapa jam, rasa lelahpun
mulai di rasakan oleh Pond an Kliwon. Kaki yang biasanya hanya berjalan di
jalan perkotaan, sekarang merasakan betapa beratnya medan hutan pegunungan.
Keringat bercucuran, rasa haus terasa sekali di tenggorokan, bekal air minum
yang sudah menipis, tak mampu menghilangkan rasa dahaga dan capek yang mereka
rasakan.
Perjalanan
mau tidak mau harus dilanjutkan, hari semakin siang, siang semakin sore, ujung
perjalanan pun belum juga dekat dengan mereka yaitu sebuah ujung langkah sampai
pada puncak Prau. Langkah demi langkah terus mereka tempuh, namun apa yang
terjadi, selalu sampai dan berputar pada tempat yang sama. Tersesatlah mereka
dihutan belantara gunung Prau.
Panik,
kalut, dan bingung dengan apa yang harus mereka lakukan, keduanya saling
menyalahkan satu sama lainnya. Sejenak Pon dan Kliwon melepas lelah duduk di
bawah pohon besar dengan nafas yang tidak beraturan. Tak ada percakapan lain,
selain keduanya saling bersikeras merasa benar sendiri hingga terjadi
perdebatan antara mereka. Perdebatan yang panas, menjadikan suasana semakin
keruh, berbanding 180 derajat dengan keadaan hutan yang hening dan sunyi dengan
angin yang sepoi – sepoi
Di
sisi lain, dua orang relawan Prau atau penjaga gunung Prau melaksanakan
tugasnya berpatroli hutan di gunung ini. Penjaga gunung itu tidak lain adalah
orang yang berjaga basecamp pendakian di desa Kenjuran. Keliling hutan
merupakan pekerjaan para relawan untuk mengawasi dan melindungi hutan dari
pembalakan liar, perburuan satwa dan tidak kalah pentingnya adalah menjaga dari
para pendaki yang nekat menerobos larangan mendaki ketika jalur pendakian
ditutup.
Mata
mereka awas, telinga mereka tajam meskipun di hutan belantara seperti ini.
Panca indra mereka sudah terlatih untuk peka terhadap hal – hal yang mengancam
kelestarian hutan Prau. Tiba – tiba terdengar suara seperti suara manusia,
padahal para relawan ini merasa hanyalah mereka berdua yang berada dihutan.
Salah satu dari mereka tidak percaya akan hal itu, mengingat jam segini tidak
mungkin ada orang dihutan, penduduk pun sudah pulang dari ladangnya,
Terlihat
dari kejauhan dengan pandangan sedikit terhalang semak – semak, dua orang sedang berbincang di bawah pohon besar, karena
penasaran siapa mereka yang duduk dibawah pohon besar maka kedua relawan ini
mencoba mendekati Pon dan Kliwon dengan pelan-pelan agar tidak menakuti mereka
berdua. Melihat gelagat mencurigakan dari Pon dan Kliwon kedua relawan itu coba
memanggil Pon dan Kliwon, mendengar ada yang memanggil bukanya medekat atau
menghampiri arah panggilan itu Pon
dan Kliwon malah berlari ketakutan.
Dengan
sekuat tenaga Pon dan Kliwon menghindari para penjaga, mereka sadar akan
kesalahannya sehingga mereka takut akan sangsi yang akan diterima bila
tertangkap oleh penjaga gunung. Tak peduli dengan medan yang mereka lewati,
apapun diterjangnya tak peduli akan sampai dimana, dalam benak mereka hanyalah
lolos dari petugas.
Melihat
kedua pemuda itu malah berlari, dua penjaga itu mengejar dan meneriaki mereka
agar tidak kabur. Mendengar teriakan sang penjaga Pon dan Kliwon malah semakin
ketakutan, dan berlari semakin tak kendali. Hingga terjadilah kejar mengejar
antara penjaga gunung dan si penerobos pendakian illegal tersebut.
Lereng
– lereng gunung, semak belukar diterabasnya oleh Pon dan Kliwon tanpa ampun,
hingga membahayakan keselamatan mereka berdua. Pon yang bertubuh kecil dengan
gesitnya berlari di depan Kliwon. Sedangkan Kliwon yang bertubuh gemuk,
ngosngosan serta keringatnya bercucuran, tertinggal oleh Pon.
Di
depan mereka berlari merupakan simpangan jalur penduduk untuk mencari kayu
kering di hutan. Dengan kencangnya dan rasa ketakutan yang dialami mereka,
keduanya terus berlari. Pada persimpangan tersebut, Pon mengambil jalur lurus
ke atas, sedangkan Kliwon malah mengambil jalur ke kanan hingga Pon dan Kliwon
berpisah di jalur hutan yang berbeda.
Penjaga
gunung terus mencari mereka, sesampainya di persimpangan kedua penjaga gunung
itu berhenti dan sedikit bingung karena tidak melihat sang pendaki illegal tersebut
lari kea rah yang mana. Namanya juga manusia, penjaga gunung juga manusia biasa
pasti akan merasakan kelelahan jika berlari di belantara hutan seperti ini.
Kemudian mereka memutuskan untuk beristirahat di persimpangan itu.
Pon
terus berlari keatas tanpa memperdulikan temannya Kliwon. Tersadar bahwa Kliwon
tidak berada di belakangnya dia berhenti dan menoleh ke belakang ternyata
benar, Kliwon berpisah darinya. Khawatir dengan sohibnya tersebut, dia berbalik arah dan mencari Kliwon.
Dipanggilnya Kliwon dengan teriakan yang sudah kehabisan tenaga, tetapi Kliwon
tidak juga menyahutnya. Dia terus mencari dan memanggilnya dengan teriakan.
Sementara
Kliwon yang mengambil jalur kanan dari persimpangan, juga terus berlari. Tanpa
memperdulikan kiri kanan pokoknya terus berlari dari kejaran penjaga gunung.
Hal yang tidak ia sadari adalah bahwa di sebelah kananya adalah jurang yang
dapat membahayakannya. Dan hal yang tidak terduga terjadi, terpelesetlah ia ke
jurang di sebelah kanannya.
Sembari
beristirahat dan menengguk bekal air minum yang mereka bawa, terdengar suara
meminta tolong dari arah belok kanan pada persimpangan. Dengan sigap, mereka
langsung mencari sumber suara tersebut yang kedengarannya tidak jauh. Benar
saja, suara meminta tolong itu adalah pendaki yang kabur tadi, yang sudah
terperosok di jurang yang agak dalam. Melihat kejadian kecelakaan tersebut,
penjaga gunung langsung segera mencari cara untuk menyelamatkan korban. Pada
proses evakuasi korban, sedikit mengalami kesulitan karena korban terpeleset ke
jurang yang sulit dijangkau untuk
memberikan pertolongan.
Pada
saat penjaga gunung mengevakuasi Kliwon yang terjatuh di jurang, datanglah Pon
yang juga mendengar teriakan Kliwon meminta tolong. Dengan ketakutan, akhirnya
Pon menghampiri satu penjaga gunung yang sedang mengawasi berjalannya evakuasi
temannya yang dilakukan oleh penjaga gunung satunya. Dia tidak memperdulikan
lagi penjaga gunung itu akan menangkapnya, yang terpenting adalah keselamatan
temannya yang mengalami kecelakaan. Setelah beberapa waktu, akhirnya si Kliwon
dapat terselamatkan.
Keadan
Kliwon tidak terluka, dia hanya sedikit syok karena kejadian tadi. Di tempat
yang agak datar, para relawan menenangkan Pon dan Kliwon supaya mereka tidak
takut. Memang mereka bersalah, namun untuk menghindari kejadian yang lebih
fatal lagi, menghindari kemungkinan mereka kabur, penjaga gunung tidak langsung
menyalahkan mereka. Dikeluarkannya air minum dari rensel sang penjaga dan
diberikan kepada Pon dan Kliwon supaya mengurangi letih dan gugup mereka.
Setelah
keadaan Pon dan Kliwon menenang, Penjaga gunung mulai memberikan pencerahan
kepada mereka. Menceritakan halnya mengapa gunung Prau kali ini ditutup
mengapa, dan apa tujuannya. Tidak hanya menceritakan alasan Gunung Prau
ditutup, namun diceritakannya semua pengaruh dan dampak negative jika tidak
peduli terhadap alam dan lingkungan. Pon dan
Kliwon sangat serius mendengarkannya, sepertinya mereka membayangkan apa
yang diucapkan oleh orang yang menangkapnya ini. Bayangan yang sangat buruk,
jika hal – hal tersebut terjadi, mereka sedikit demi sedikit paham dan mengerti
akan hal itu dan mulai sadar akan kesalahannya.
Kesalahan
memang tidak bisa ditorerir, setiap kesalahan harus ada sangsinya begitu pun
juga pada Pon dan Kliwon yang bersalah telah menerobos ketika jalur pendakian
ditutup. Untuk menebus kesalahan mereka, penjaga gunung memberikan sangsi
supaya keduanya langsung turun dan harus membersihkan sampah sepanjang
perjalanan pulang menuju basecamp. Satu persatu sampah sepanjang perjalanan
mereka punguti, dari plastic bungkus makanan, kertas – kertas bertuliskan kata
– kata alay yang digunakan untuk selvy para alayer yang di buang sembarangan mereka
ambil dan dimasukkan ke kantong plastic besar dan dibawa turun.
Ketika
memungut sampah satu persatu, kesadaran mereka akan betapa pentingnya menjaga
lingkungan bertambah. Mereka sadar, buat apa mendaki gunung kalau hanya akan
mengotori gunung dan belanja DP (Display Picture) saja. Gunung bukan tempat sampah,
bukan tempat membuang kertas bertuliskan kata – kata lebay, dan gunung juga
bukan tempat selvi untuk sekedar mendapatkan “like” sebanyak – banyaknya dari
nettizen. Yang di butuhkan gunung hanyalah kelestariannya, tanpa jejak kaki
manusia gunung semakin baik.
Akhirnya
mereka sampai di bascamp, dengan membawa sampah yang begitu banyak. Sesampai di
bascamp, mereka beristirahat sebentar dan langsung pulang. Pengalaman yang
sangat memalukan, namun memberikan pelajaran yang begitu besar. Setelah
kejadian tadi, mereka berjanji akan peduli terhadap lingkungan dan merubah pola
hidup mereka, yang tadinya suka membuang sampah sembarangan akan mereka rubah.
Sepulang
dari pendakian yang gagal itu, kehidupan mereka menjadi lebih baik. Hari – hari
mereka telah berbeda dengan sebelum mereka pergi ke Gunung Prau. Mereka yakin
akan dapat sampai ke puncak Prau dengan keadaan yang berbeda, keadaan yang
lebih mencintai Prau dan berusaha untuk melestarikannya.
Beberapa
bulan kemudian setelah jalur pendakian dibuka, mereka kembali lagi ke Gunung
Prau dengan bekal ilmu mountenering yang mereka pelajari secara otodidak, ilmu
conservasi juga mereka pelajari. Berbeda dengan pertama kali mereka menginjakan
kaki di gunung Prau yang penuh dengan rintangan, dan kesalahan, kali ini
pendakian berjalan lancer.
Sesampai
di puncak, mereka terkagum akan keindahan pesona Puncak Gunung Prau yang begitu
indah. Keindahan itu membuat mereka terharu akan kebesaran Tuhan, dan
mengingatkan mereka akan sesalahan – kesalahan tempo hari yang mereka lakukan.
Mereka membayangkan, apa yang akan terjadi jika sikap mereka masih seperti
dulu, pasti akan menambah kerusakan, dan sirnalah keindahan yang mereka sedang
nikmati ini.
Dalam
lamunan yang begitu dalam, tak sadar ada dua orang yang mendekati mereka. Orang
itu ternyata adalah penjaga gunung yang kala itu. Dihampirinya mereka, yang
sedang melamun merenung. Kaget dengan sapaan yang dilontarkan penjaga gunung
itu, dikiranya akan menangkap mereka lagi. Penjaga gunung tersenyum, bukan itu
tujuan mereka, lalu mereka berbincang dengan hangat sehangat mentari yang
menyinari mereka di puncak gunung yang dingin.
-------------<<(((((Sekian)))))>>-------------
No comments:
Post a Comment