Thursday, May 26, 2016

FILM PENDEK 2565


FILM PENDEK

Dua orang pemuda yang bernama Pon dan Kliwon, merupakan pemuda yang biasa saja  dan seakan cuek akan semua yang berbau social. Termasuk masalah sampah, bahkan masalah sampah yang mereka hasilkan sendiri, dibuangnya seenak hati. Mereka selalu sibuk dengan hobi masing – masing. Pon adalah anak motor, hobinya adalah utak – atik motor, biarpun sebenarnya motornya tidak ada masalah. Sedangkan Kliwon, merupakan anak rumahan yang lebih aktif di dunia maya, kesehariannya hanyalah bermain gadget kalau tidak bermain laptop.
Hidup terkadang memang membosankan dengan kegiatan yang monoton itu – itu saja. Hingga suatu ketika, terbesit di benak Pon saat dirinya  mandi, untuk mencari suasana baru yang belum pernah ia lakukan. Pada saat itu pula, handphone nya bordering menandakan ada yang menelephone nya. Telephone itu ternyata dari sahabatnya Kliwon yang mengajaknya untuk main kerumahnya.
Setelah mandi selesai, Pon langsung meluncur ke rumah sahabatnya itu. Sesampainya di rumah Kliwon, mereka saling ngobrol bahkan curhat satu sama lainnya. Ternyata hal yang sama dirasakan oleh Kliwon, yaitu merasa bosan dengan hari – hari yang monoton. Kebetulan, Kliwon yang ahli dalam searching dan googling, sebelumnya sudah mendapatkan informasi bahwa ada suatu tempat yang cocok untuk menghilangkan penat dan kebosanan. Tempat itu adalah Gunung Prau, gunung yang ketinggiannya adalah 2565 mdpl.
Mereka sepakat untuk merencanakan pendakian  gunung Prau, suatu rencana yang mereka sendiri belum pernah lakukan. Dengan gaya yang congkak dan sok berpengalaman, tanpa basa – basi  tanpa pertimbangan cuaca, perhitungan bekal, dan ilmu mountenering secepatnya harus rencana itu harus terlaksana.
Pagi – pagi berangkatlah mereka menuju basecamp pendakian gunung Prau yang berada di desa Kenjuran. Jarak tempuh yang agak jauh dari kota ditempuhnya menggunakan motor bebeknya. Jalan rusak, bergelombang khas pegunungan diterjangnya tanpa henti. Sesampai di basecamp, bertemulah mereka dengan penjaga basecamp, dan diberitahukan bahwa pendakian gunung Prau ditutup untuk sementara. Mereka kesal sendiri, dan langsung berpamitan dengan penjaga basecamp. Namun apa yang mereka lakukan setelah berpamitan,?
Ternyata mereka nekat menerobos untuk mendaki gunung Prau secara illegal. Hutan berantara mereka masuki dan tidak lewat jalur pendakian yang resmi. Pohon besar dan rindang seakan tidak merestui perjalanan mereka. Semak belukar yang menghadang, dilibasnya dengan sepatu yang notabene bukan sepatu untuk pendakian dan kegiatan out door pada umumnya, sepatu yang mereka gunakan hanyalah sepatu harian ke sekolah, kampus, mall dan lain sebagainya.
Setelah berjalan seberapa jam,  rasa lelahpun mulai di rasakan oleh Pond an Kliwon. Kaki yang biasanya hanya berjalan di jalan perkotaan, sekarang merasakan betapa beratnya medan hutan pegunungan. Keringat bercucuran, rasa haus terasa sekali di tenggorokan, bekal air minum yang sudah menipis, tak mampu menghilangkan rasa dahaga dan capek yang mereka rasakan.
Perjalanan mau tidak mau harus dilanjutkan, hari semakin siang, siang semakin sore, ujung perjalanan pun belum juga dekat dengan mereka yaitu sebuah ujung langkah sampai pada puncak Prau. Langkah demi langkah terus mereka tempuh, namun apa yang terjadi, selalu sampai dan berputar pada tempat yang sama. Tersesatlah mereka dihutan belantara gunung Prau.
Panik, kalut, dan bingung dengan apa yang harus mereka lakukan, keduanya saling menyalahkan satu sama lainnya. Sejenak Pon dan Kliwon melepas lelah duduk di bawah pohon besar dengan nafas yang tidak beraturan. Tak ada percakapan lain, selain keduanya saling bersikeras merasa benar sendiri hingga terjadi perdebatan antara mereka. Perdebatan yang panas, menjadikan suasana semakin keruh, berbanding 180 derajat dengan keadaan hutan yang hening dan sunyi dengan angin yang sepoi – sepoi
Di sisi lain, dua orang relawan Prau atau penjaga gunung Prau melaksanakan tugasnya berpatroli hutan di gunung ini. Penjaga gunung itu tidak lain adalah orang yang berjaga basecamp pendakian di desa Kenjuran. Keliling hutan merupakan pekerjaan para relawan untuk mengawasi dan melindungi hutan dari pembalakan liar, perburuan satwa dan tidak kalah pentingnya adalah menjaga dari para pendaki yang nekat menerobos larangan mendaki ketika jalur pendakian ditutup.
Mata mereka awas, telinga mereka tajam meskipun di hutan belantara seperti ini. Panca indra mereka sudah terlatih untuk peka terhadap hal – hal yang mengancam kelestarian hutan Prau. Tiba – tiba terdengar suara seperti suara manusia, padahal para relawan ini merasa hanyalah mereka berdua yang berada dihutan. Salah satu dari mereka tidak percaya akan hal itu, mengingat jam segini tidak mungkin ada orang dihutan, penduduk pun sudah pulang dari ladangnya,
Terlihat dari kejauhan dengan pandangan sedikit terhalang semak – semak, dua orang  sedang berbincang di bawah pohon besar, karena penasaran siapa mereka yang duduk dibawah pohon besar maka kedua relawan ini mencoba mendekati Pon dan Kliwon dengan pelan-pelan agar tidak menakuti mereka berdua. Melihat gelagat mencurigakan dari Pon dan Kliwon kedua relawan itu coba memanggil Pon dan Kliwon, mendengar ada yang memanggil bukanya medekat atau menghampiri arah panggilan itu Pon dan Kliwon malah berlari ketakutan.
Dengan sekuat tenaga Pon dan Kliwon menghindari para penjaga, mereka sadar akan kesalahannya sehingga mereka takut akan sangsi yang akan diterima bila tertangkap oleh penjaga gunung. Tak peduli dengan medan yang mereka lewati, apapun diterjangnya tak peduli akan sampai dimana, dalam benak mereka hanyalah lolos dari petugas.
Melihat kedua pemuda itu malah berlari, dua penjaga itu mengejar dan meneriaki mereka agar tidak kabur. Mendengar teriakan sang penjaga Pon dan Kliwon malah semakin ketakutan, dan berlari semakin tak kendali. Hingga terjadilah kejar mengejar antara penjaga gunung dan si penerobos pendakian illegal tersebut.
Lereng – lereng gunung, semak belukar diterabasnya oleh Pon dan Kliwon tanpa ampun, hingga membahayakan keselamatan mereka berdua. Pon yang bertubuh kecil dengan gesitnya berlari di depan Kliwon. Sedangkan Kliwon yang bertubuh gemuk, ngosngosan serta keringatnya bercucuran, tertinggal oleh Pon.
Di depan mereka berlari merupakan simpangan jalur penduduk untuk mencari kayu kering di hutan. Dengan kencangnya dan rasa ketakutan yang dialami mereka, keduanya terus berlari. Pada persimpangan tersebut, Pon mengambil jalur lurus ke atas, sedangkan Kliwon malah mengambil jalur ke kanan hingga Pon dan Kliwon berpisah di jalur hutan yang berbeda.
Penjaga gunung terus mencari mereka, sesampainya di persimpangan kedua penjaga gunung itu berhenti dan sedikit bingung karena tidak melihat sang pendaki illegal tersebut lari kea rah yang mana. Namanya juga manusia, penjaga gunung juga manusia biasa pasti akan merasakan kelelahan jika berlari di belantara hutan seperti ini. Kemudian mereka memutuskan untuk beristirahat di persimpangan itu.
Pon terus berlari keatas tanpa memperdulikan temannya Kliwon. Tersadar bahwa Kliwon tidak berada di belakangnya dia berhenti dan menoleh ke belakang ternyata benar, Kliwon berpisah darinya. Khawatir dengan sohibnya tersebut,  dia berbalik arah dan mencari Kliwon. Dipanggilnya Kliwon dengan teriakan yang sudah kehabisan tenaga, tetapi Kliwon tidak juga menyahutnya. Dia terus mencari dan memanggilnya dengan teriakan.
Sementara Kliwon yang mengambil jalur kanan dari persimpangan, juga terus berlari. Tanpa memperdulikan kiri kanan pokoknya terus berlari dari kejaran penjaga gunung. Hal yang tidak ia sadari adalah bahwa di sebelah kananya adalah jurang yang dapat membahayakannya. Dan hal yang tidak terduga terjadi, terpelesetlah ia ke jurang di sebelah kanannya.
Sembari beristirahat dan menengguk bekal air minum yang mereka bawa, terdengar suara meminta tolong dari arah belok kanan pada persimpangan. Dengan sigap, mereka langsung mencari sumber suara tersebut yang kedengarannya tidak jauh. Benar saja, suara meminta tolong itu adalah pendaki yang kabur tadi, yang sudah terperosok di jurang yang agak dalam. Melihat kejadian kecelakaan tersebut, penjaga gunung langsung segera mencari cara untuk menyelamatkan korban. Pada proses evakuasi korban, sedikit mengalami kesulitan karena korban terpeleset ke jurang yang sulit  dijangkau untuk memberikan pertolongan.
Pada saat penjaga gunung mengevakuasi Kliwon yang terjatuh di jurang, datanglah Pon yang juga mendengar teriakan Kliwon meminta tolong. Dengan ketakutan, akhirnya Pon menghampiri satu penjaga gunung yang sedang mengawasi berjalannya evakuasi temannya yang dilakukan oleh penjaga gunung satunya. Dia tidak memperdulikan lagi penjaga gunung itu akan menangkapnya, yang terpenting adalah keselamatan temannya yang mengalami kecelakaan. Setelah beberapa waktu, akhirnya si Kliwon dapat terselamatkan.
Keadan Kliwon tidak terluka, dia hanya sedikit syok karena kejadian tadi. Di tempat yang agak datar, para relawan menenangkan Pon dan Kliwon supaya mereka tidak takut. Memang mereka bersalah, namun untuk menghindari kejadian yang lebih fatal lagi, menghindari kemungkinan mereka kabur, penjaga gunung tidak langsung menyalahkan mereka. Dikeluarkannya air minum dari rensel sang penjaga dan diberikan kepada Pon dan Kliwon supaya mengurangi letih dan gugup mereka.
Setelah keadaan Pon dan Kliwon menenang, Penjaga gunung mulai memberikan pencerahan kepada mereka. Menceritakan halnya mengapa gunung Prau kali ini ditutup mengapa, dan apa tujuannya. Tidak hanya menceritakan alasan Gunung Prau ditutup, namun diceritakannya semua pengaruh dan dampak negative jika tidak peduli terhadap alam dan lingkungan. Pon dan  Kliwon sangat serius mendengarkannya, sepertinya mereka membayangkan apa yang diucapkan oleh orang yang menangkapnya ini. Bayangan yang sangat buruk, jika hal – hal tersebut terjadi, mereka sedikit demi sedikit paham dan mengerti akan hal itu dan mulai sadar akan kesalahannya.
Kesalahan memang tidak bisa ditorerir, setiap kesalahan harus ada sangsinya begitu pun juga pada Pon dan Kliwon yang bersalah telah menerobos ketika jalur pendakian ditutup. Untuk menebus kesalahan mereka, penjaga gunung memberikan sangsi supaya keduanya langsung turun dan harus membersihkan sampah sepanjang perjalanan pulang menuju basecamp. Satu persatu sampah sepanjang perjalanan mereka punguti, dari plastic bungkus makanan, kertas – kertas bertuliskan kata – kata alay yang digunakan untuk selvy para alayer yang di buang sembarangan mereka ambil dan dimasukkan ke kantong plastic besar dan dibawa turun.
Ketika memungut sampah satu persatu, kesadaran mereka akan betapa pentingnya menjaga lingkungan bertambah. Mereka sadar, buat apa mendaki gunung kalau hanya akan mengotori gunung dan belanja DP (Display Picture) saja. Gunung bukan tempat sampah, bukan tempat membuang kertas bertuliskan kata – kata lebay, dan gunung juga bukan tempat selvi untuk sekedar mendapatkan “like” sebanyak – banyaknya dari nettizen. Yang di butuhkan gunung hanyalah kelestariannya, tanpa jejak kaki manusia gunung semakin baik.
Akhirnya mereka sampai di bascamp, dengan membawa sampah yang begitu banyak. Sesampai di bascamp, mereka beristirahat sebentar dan langsung pulang. Pengalaman yang sangat memalukan, namun memberikan pelajaran yang begitu besar. Setelah kejadian tadi, mereka berjanji akan peduli terhadap lingkungan dan merubah pola hidup mereka, yang tadinya suka membuang sampah sembarangan akan mereka rubah.
Sepulang dari pendakian yang gagal itu, kehidupan mereka menjadi lebih baik. Hari – hari mereka telah berbeda dengan sebelum mereka pergi ke Gunung Prau. Mereka yakin akan dapat sampai ke puncak Prau dengan keadaan yang berbeda, keadaan yang lebih mencintai Prau dan berusaha untuk melestarikannya.
Beberapa bulan kemudian setelah jalur pendakian dibuka, mereka kembali lagi ke Gunung Prau dengan bekal ilmu mountenering yang mereka pelajari secara otodidak, ilmu conservasi juga mereka pelajari. Berbeda dengan pertama kali mereka menginjakan kaki di gunung Prau yang penuh dengan rintangan, dan kesalahan, kali ini pendakian berjalan lancer.
Sesampai di puncak, mereka terkagum akan keindahan pesona Puncak Gunung Prau yang begitu indah. Keindahan itu membuat mereka terharu akan kebesaran Tuhan, dan mengingatkan mereka akan sesalahan – kesalahan tempo hari yang mereka lakukan. Mereka membayangkan, apa yang akan terjadi jika sikap mereka masih seperti dulu, pasti akan menambah kerusakan, dan sirnalah keindahan yang mereka sedang nikmati ini.
Dalam lamunan yang begitu dalam, tak sadar ada dua orang yang mendekati mereka. Orang itu ternyata adalah penjaga gunung yang kala itu. Dihampirinya mereka, yang sedang melamun merenung. Kaget dengan sapaan yang dilontarkan penjaga gunung itu, dikiranya akan menangkap mereka lagi. Penjaga gunung tersenyum, bukan itu tujuan mereka, lalu mereka berbincang dengan hangat sehangat mentari yang menyinari mereka di puncak gunung yang dingin.

Tonton videonya DI SINI 

-------------<<(((((Sekian)))))>>-------------

No comments:

Post a Comment